Petani Tebu Rakyat Berharap Adanya Revolusi Harga Tebu

Petani Tebu Rakyat Berharap Adanya Revolusi Harga Tebu

Bojonegoro – Tidak stabil dan rendahnya harga tebu yang dibeli pabrik gula membuat petani tebu selalu mengalami kerugian. Kondisi seperti itu selalu dirasakan oleh para Kelompok Petani Tebu Rakyat (KPTR) dan APTR yang berada di wilayah Bojonegoro dan Tuban.

Suwarno (40), Salah satu petani tebu asal Parengan, Kabupaten Tuban mengeluhkan tidak konsistennya pihak PTPN X yang menjadi mitra para petani tebu terkait pinjaman modal.

Dalam kesepakatan bersama, petani akan mendapatkan Rp 7 juta per hektar. Namun kenyataan di lapangan, petani hanya mendapat pinjaman modal Rp 1,6 juta. Harga beli tebu yang saat ini dikirim ke pabrik tebu milik BUMN juga sangat murah dibandingkan dengan harga yang diberikan oleh pabrik gula Swasta.

“Pabrik gula BUMN itu selalu membuat petani tebu khawatir dan selalu tertindas. Komitmen pinjam modal saja yang awalnya sepakat Rp 7 juta kenyataanya hanya diberi Rp 1,6 juta. Sistem yang digunakan selama ini juga terkesan semaunya,” keluh Suwarno, petani tebu asal Tuban kepada detikcom, Rabu (3/8/2016).

Kondisi yang seperti ini menurut Suwarno, diharapkan segera ada perubahan, supaya petani tebu bisa sejahtera. Sedikitnya di kabupaten Bojonegoro-Tuban ada 7.000 petani tebu rakyat yang terbagi menjadi 160 kelompok yang tergabung dalam Koperasi Petani Tebu Rakyat.

Hasil panen tebu para petani di Bojonegoro-Tuban saat ini hanya dibeli oleh pabrik gula BUMN dikisaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kwintalnya. Padahal pabrik gula Swasta yang ada di Jawa Timur sudah berani membeli dengan harga Rp 79 ribu per kwintalnya.

Sementara, Ardianto Santoso yang tergabung dalam Forum Transparansi Gula Nasional membenarkan adanya keluhan para petani tebu rakyat. Ia mengharapkan adanya revolusi harga dan mental para petani, dan para penguasa pabrik gula di negeri ini. Pemerintah harus segera melakukan porubahan dan sistem tehnologi yang selama ini digunkan oleh para pabrik gula milik pemerintah.

“Dampak yang diperoleh para petani jika harga yang diberikan pabrik gula itu rendah, maka mereka akan lari ke pabrik gula swasta karena harga belinya tinggi. Dan sistem tehnologinya cukup baik dan cepat,” terang Ardianto Santoso yang juga sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Petani FTGN.

Ditambahkan oleh ardianto, saat ini para KPTR memilih menjual hasil panennya ke pabrik gula swasta meski lokasinya jauh. Karena harga yang diberikan pabrik gula swasta jauh lebih tinggi, dan para petani bisa untung.
(bdh/bdh)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

two × 3 =