(Arena Bobotoh) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Bernama Hariono

(Arena Bobotoh) Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu Bernama Hariono

Seberapa besar jasa Astronom dalam kehidupan kita? Seperti apa peran yang diberikan para politikus dalam menjaga keseimbangan dunia? Apa bukti nyata bahwa Ilmu Hukum diperlukan dalam kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memiliki banyak jawaban. Pada akhirnya, semuanya memiliki jasa bagi kelangsungan hidup umat manusia. Baik itu yang nampak maupun tidak. Baik itu meninggalkan barang bukti maupun tidak.

Lalu, pernahkah kita mendengar sebuah istilah ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’? Mungkin hal tersebut cukup terdengar familiar, pahlawan tanpa tanda jasa adalah manusia yang berperan dalam kehidupan dunia namun jasanya tidak mendapat sorotan besar. Bisa juga karena apa yang ia lakukan tidak meninggalkan sebuah tanda atau bukti nyata bahwa ia berjasa.

Dalam dunia Sepakbola, ukuran kontribusi seorang pemain dilihat dari apa yang ia berikan untuk kesebelasan yang ia bela. Seorang penyerang akan diakui jika ia mampu mencetak banyak gol di setiap musim. Seorang Playmaker akan diakui kejeniusannya jika ia mampu mengembangkan permainan dan memberikan banyak asis. Seorang pemain bertahan akan diakui kemampuannya jika mampu menjaga gawangnya dari kebobolan. Bahkan, seorang kiper akan diakui ketika ia mampu melakukan penyelamatan gemilang yang berhasil menghindarkan timnya dari kekalahan.

Dan, takaran apa yang diberikan untuk kontribusi seorang gelandang bertahan?

Gelandang bertahan merupakan posisi yang dianggap tidak terlalu spesial, namun nyatanya memiliki peran sangat vital. Gelandang bertahan merupakan pemain yang rela ‘mengotori’ kakinya sendiri dengan berbagai tekel keras demi memutus aliran serangan lawan. Gelandang bertahan akan menjadi pemain yang rela tidak berlama-lama dengan bola demi mengatur tempo timnya saat menyerang.

Di era sepakbola modern saat ini, peran gelandang bertahan semakin penting. Namun, tidak sedikit yang tidak menyadari hal tersebut. Kita ambil contoh dalam sebuah proses gol di pertandingan sepakbola. Tim A mendapat kesempatan menyerang, bola ada di kaki seorang gelandang bertahan, dengan jeli ia mampu melihat posisi kosong rekannya yang ada di posisi sayap dan melakukan umpan panjang secara akurat. Pemain sayap yang menerima bola kemudian melakukan sebuah trik teknik tinggi melewati pemain yang berusaha merebut bola darinya, kemudian memberikan umpan silang indah ke kotak penalti lawan. Disana ada seorang penyerang yang menyambut dengan sundulan yang baik sehingga berbuah gol.

Apa yang akan dibahas dalam review pertandingan seusai laga? Siapa yang akan dianugerahi predikat man of the match jika akhirnya itu menjadi satu-satunya gol yang terjadi pada pertandingan itu? Wajah siapa yang akan terpampang di surat kabar keesokan harinya?

Saya yakin, akan lebih banyak yang membahas pergerakan sang pemain sayap. Akan lebih banyak yang membicarakan bagaimana hebatnya sang penyerang menyambut umpan silang yang diberikan rekannya. Hanya segelintir yang sadar bahwa bola berawal dari peran penting gelandang bertahan melihat ruang kosong dari pertahanan tim lawan.

Di sepakbola Internasional sendiri, saat ini semakin banyak pemain yang mahir bermain tidak hanya di satu posisi. Pemain yang mampu bermain di berbagai posisi, versatille player, disebutnya, akan lebih diinginkan pelatih karena mampu menyesuaikan dengan berbagai formasi. Maka kemudian muncullah istilah semacam: box to box midfielder, deep-lying playmaker, hingga regista. Semakin sedikit pula pemain yang menyandang predikat gelandang bertahan murni. Sekalipun ada, para pelatih justru memberi mereka intruksi untuk tidak hanya sekedar menjadi breaker namun juga mampu menjadi playmaker bayangan bahkan pemecah kebuntuan tim. Sebut saja pemain seperti Sergio Busquets, Toni Kroos, hingga Radja Nainggolan.

Di Indonesia, kita akan menemui nama yang terbilang familiar. Ya, dialah Hariono. Satu dari sedikit pemain dengan predikat gelandang bertahan murni. Satu dari sedikit pemain yang rela tidak bermandikan lampu sorot asalkan tim yang ia bela mampu bersaing.

Hariono di datangkan dari Deltras Sidoarjo bersamaan dengan masuknya Jaya Hartono sebagai pelatih Persib kala itu, bersama rombongan lain seperti Airlangga Sucipto dan Hilton Moreira. Hariono mampu menjadi tulang punggung tim. Di saat Airlangga dan Hilton sudah bermain untuk tim lain. Di saat pelatih silih berganti menahkodai Persib dari lokal hingga asing. Nama Hariono masih ada di dalam daftar skuad Persib. Lebih dari itu, ia nyaris selalu ada di jajaran starter.

Memangnya, apa yang sudah Hariono berikan untuk Persib selama sewindu ia mengabdi?

Dilihat dari catatan gol rasanya tidak mungkin karena seingat saya Hariono belum pernah mencetak gol di pertandingan resmi (bahkan mungkin persahabatan) untuk Persib. Jangankan gol, asis saja mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Bagaimana bisa namanya selalu ada dalam skuad Persib dari tahun ke tahun? Bahkan, hal ini terbilang luar biasa karena terjadi di Indonesia, yang ada tidaknya liga dari satu musim ke musim saja masih suka dipertanyakan. Bubar atau tidaknya sebuah tim saja begitu mudah terjadi.

Pada prakteknya, meski bukan dari gol ataupun asis, Hariono tetap berjasa sangat besar bagi Persib. Ia membuat dari pemain bertahan hingga pemain depan mampu menampilkan permainan yang bersahaja. Untuk pemain belakang, mereka tidak perlu takut untuk berhadapan langsung dengan pemain menyerang lawan karena ada filter pertama bernama Hariono. Untuk para gelandang serang, mereka bisa dengan bebas dan tanpa ragu membantu penyerangan karena saat terjadi serangan balik, akan ada pemain dengan nomor 24 yang segera menghentikan serangan balik lawan, meski harus dengan cara yang keras.

Saat Persib menyudahi puasa gelar selama 19 tahun di Liga Indonesia, mungkin yang akan kita ingat adalah betapa luar biasanya penampilan gemilang Makan Konate. Mungkin yang akan kita ingat adalah betapa produktifnya seorang Ferdinand Sinaga. Yang akan kita ingat adalah betapa heroiknya Achmad Jufriyanto ketika ia berhasil mengeksekusi penalti dengan baik pada pertandingan final. Terlepas dari semua itu, tanpa mengurangi kontribusi pemain lain, nama Hariono lah yang seharusnya dielu-elukan. Bersama Atep, yang sama-sama datang pada 2008, Hariono lah yang merasakan bagaimana beratnya berjuangan selama enam tahun sebelum ia meraih gelar perdananyan bersama Persib. Hariono lah yang merasakan suka dukanya membela tim dengan animo dan tekanan suporter sangat tinggi ini. Hariono lah yang paham betul pahit manisnya berada di tim sebesar Persib Bandung.

Hingga kini dan nanti, nama Hariono saya harap akan tetap ada dalam skuad Persib Bandung, nomor 24 saya harap akan abadi miliknya hingga ia memutuskan untuk berhenti berlari kelak. Rambut gondrong khasnya saya harap akan tetap ada di lapangan hingga bertahun-tahun ke depan.

Tidak perlu mencetak banyak gol untuk diakui, tidak perlu memperlihatkan teknik tinggi untuk dicintai, tidak perlu menjadi pencetak gol penentu pada pertandingan final untuk menjadi abadi. Tanpa tanda jasa sekalipun, akan ada seseorang yang namanya mewangi hingga nanti.

Ya, pahlawan tanpa tanda jasa itu bernama, Hariono!.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

19 + seventeen =